"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Mat 11 : 28 – 30
Bahagia
itu sederhana. Barangkali kata ini sedang populer di berbagai kalangan,
terutama ditambah dengan penyebarannya yang semakin luas lewat berbagai
jejaring sosial di internet. Memang, bahagia itu pada dasarnya sederhana,
sesederhana pilihan kita, keputusan kita untuk menjadi bahagia.
Manusia
memang dirancang untuk menjadi makhluk yang penuh dengan ekspektasi. Sadar atau
tidak sadar, kita secara otomatis merancang skenario terbaik di kepala kita
untuk menghadapi masa depan. Ketika ekspektasi tersebut tidak sesuai dengan
kenyataan, maka hadirlah sebuah masalah, yang tentu saja berpotensi besar untuk
merenggut kebahagiaan kita. Banyak orang masih menganggap kebahagiaan bisa
dimanipulasi oleh kenyataan, maka ketika masalah besar datang, kita hanya bisa
pasrah dan berduka. Padahal kenyataannya, kita memiliki kemampuan untuk memilih menjadi bahagia, menghargai
hidup, dan mengalaminya.
Memang,
pada kenyataannya memilih untuk bahagia bukanlah perkara yang mudah. Seringkali
hidup dirasa begitu tega untuk menjatuhkan kita sampai ke titik yang kita
anggap amat rendah dalam hidup. Di situlah ayat di atas mengingatkan, bahwa
Tuhan Yesus selalu mengundang kita yang sedang dirundung masalah untuk datang
kepada-Nya dan Ia akan senantiasa memberikan kelegaan. Kita harus selalu ingat bahwa kita memiliki
harapan terbesar dalam diri Sang Penghibur Sejati yakni Yesus Kristus, Tuhan
kita. Ia selalu mencintai kita, rela membantu dalam segala kesulitan kita, dan
tidak akan pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita.
Bahagia
itu sederhana. Sesederhana kita melewati hidup ini dengan memilih untuk
tersenyum sambil menaruh harapan kita kepada Bapa yang Maha Pengasih, Yesus
Kristus. (Dwi Lukita)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar