Senin, 30 April 2012

Bahagia Itu Sederhana



"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”        
Mat 11 : 28 – 30

                         Bahagia itu sederhana. Barangkali kata ini sedang populer di berbagai kalangan, terutama ditambah dengan penyebarannya yang semakin luas lewat berbagai jejaring sosial di internet. Memang, bahagia itu pada dasarnya sederhana, sesederhana pilihan kita, keputusan kita untuk menjadi bahagia.
                         Manusia memang dirancang untuk menjadi makhluk yang penuh dengan ekspektasi. Sadar atau tidak sadar, kita secara otomatis merancang skenario terbaik di kepala kita untuk menghadapi masa depan. Ketika ekspektasi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, maka hadirlah sebuah masalah, yang tentu saja berpotensi besar untuk merenggut kebahagiaan kita. Banyak orang masih menganggap kebahagiaan bisa dimanipulasi oleh kenyataan, maka ketika masalah besar datang, kita hanya bisa pasrah dan berduka. Padahal kenyataannya, kita memiliki kemampuan untuk memilih menjadi bahagia, menghargai hidup, dan mengalaminya.
                         Memang, pada kenyataannya memilih untuk bahagia bukanlah perkara yang mudah. Seringkali hidup dirasa begitu tega untuk menjatuhkan kita sampai ke titik yang kita anggap amat rendah dalam hidup. Di situlah ayat di atas mengingatkan, bahwa Tuhan Yesus selalu mengundang kita yang sedang dirundung masalah untuk datang kepada-Nya dan Ia akan senantiasa memberikan kelegaan.  Kita harus selalu ingat bahwa kita memiliki harapan terbesar dalam diri Sang Penghibur Sejati yakni Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia selalu mencintai kita, rela membantu dalam segala kesulitan kita, dan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita.
                         Bahagia itu sederhana. Sesederhana kita melewati hidup ini dengan memilih untuk tersenyum sambil menaruh harapan kita kepada Bapa yang Maha Pengasih, Yesus Kristus. (Dwi Lukita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar